|
|
|
|---|---|
| Item Name | KO 01 |
| Price | Rp120,000 |
| Description | Your product description here! |
| Available Stock | Stock count here! |
| Misc | Place extra thumbs/images of product here |
Sabtu, 06 April 2013
bisnis baju koko masa kini
Jumat, 29 Maret 2013
GUYONAN GUSDUR
KORUPTOR BIKIN JENGKEL SETAN
Selama meringkuk di balik terali besi, berulang kali sang koruptor menyatakan sesal. Dan khusus saat mendoa, dia sengaja mengucapkan kata tobat dengan suara keras. Orang di sekitarnya ada juga yang kagum dengan gaya insyaf ala koruptor ini.
Sampai pada suatu dinihari, ketika para tahanan lain sedang pulas, si koruptor pun duduk sembari memandang bulan purnama dari balik jeruji kamarnya.
Sehabis menarik nafas panjang, dia bergumam, "Ya ALLAH! Aku benar-benar menyesal. Tobat, Ya ALLAH. Selama ini aku hanyut lantaran digoda setan..."
Tiba-tiba, ada suara, "Bahlul ente!" Sang koruptor kaget. "Hei. siapa itu?"
"Ana..setan yang ente salah-salahin tadi. Ente yang ngerjain, ana nggak ikut enaknya, eh pas masuk bui kok ana ketiban pulung disalahin, sih? Bahlul ente..!"
humor GUSDUR........
Selama meringkuk di balik terali besi, berulang kali sang koruptor menyatakan sesal. Dan khusus saat mendoa, dia sengaja mengucapkan kata tobat dengan suara keras. Orang di sekitarnya ada juga yang kagum dengan gaya insyaf ala koruptor ini.
Sampai pada suatu dinihari, ketika para tahanan lain sedang pulas, si koruptor pun duduk sembari memandang bulan purnama dari balik jeruji kamarnya.
Sehabis menarik nafas panjang, dia bergumam, "Ya ALLAH! Aku benar-benar menyesal. Tobat, Ya ALLAH. Selama ini aku hanyut lantaran digoda setan..."
Tiba-tiba, ada suara, "Bahlul ente!" Sang koruptor kaget. "Hei. siapa itu?"
"Ana..setan yang ente salah-salahin tadi. Ente yang ngerjain, ana nggak ikut enaknya, eh pas masuk bui kok ana ketiban pulung disalahin, sih? Bahlul ente..!"
humor GUSDUR........
Rabu, 27 Maret 2013
HUMOR ALA KIYAI NU
SEBUAH CERITA TENTANG BID'AH
Kang Hanif, seorang anggota Ansor, telah lama didaulat masyarakat di desa untuk memangku masjid. Semua acara keagamaan dia yang memimpin. Suatu hari ada seorang berjenggot panjang dan bercelana cingkrang dari sebelah desa menudingnya sebagai pelaku bid’ah, churafat, takhayul, bahkan syirik.
“Mas, sampean jangan terus-terusan menyesatkan umat. Tahlilan, sholawatan, yasinan, manaqiban, bermaaf-maafan sebelum memasuki Ramadhan, itu bid’ah. Apalagi mendoakan mayit, tawasul atau ngirim pahala untuk orang sudah mati. Doa itu tidak sampai, bahkan merusak iman. Musyrik hukumnya,” kata orang tersebut dengan gaya sok paling Islam dan paling benar.
Kang Hanif hanya diam saja. Ia sudah beberapa kali menghadapi orang begitu yang biasanya hanya bermodal “ngeyel” dengan ilmu agama yg jauh dari memadai. Persis seperti anak kecil baru belajar karate, yang baru tahu satu dua jurus saja lagak lakunya belagu.
Walau kang Hanif telah 9 tahun mengaji di pesantren Tambak Beras dan paham betul dasar-dasar amaliyah itu, ia tetap tak membantah dan membiarkan orang itu terus menudingnya. “Percuma saja membantah orang itu. Hatinya tertutup jenggotnya. Mata hatinya tak seterbuka mata kakinya,” batin kang Hanif.
Beberapa waktu kemudian ayah orang yang berjenggot dan bercelana cingkrang itu meninggal dunia. Kang Hanif datang bertakziyah bersama para jamaahnya. Dia lantas berdoa keras di depan mayit si bapak dan jama’ahnya mengamini.
“Ya Allah, laknatlah mayit ini. Jangan ampuni dosanya. Siksalah dia sepedih-pedihnya. Kumpulkan dia bersama Fir’aun, Qorun dan orang yg Engkau laknati. Masukkan dia di neraka sedalam-dalamnya, selama-lamanya”.
Si jenggot bercelana cingkrang menghampiri Kang Hanif, bermaksud menghentikan doanya.
“Jangan protes. Katamu doa kepada mayit tidak akan sampai. Santai saja. Tidak ada yg perlu engkau khawatirkan bukan? Kalau aku sih yakin doaku sampai,” ujar kang Hanif tenang.
Muka si jenggot bercelana cingkrang pucat. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya yang biasa menghakimi orang lain
Kang Hanif, seorang anggota Ansor, telah lama didaulat masyarakat di desa untuk memangku masjid. Semua acara keagamaan dia yang memimpin. Suatu hari ada seorang berjenggot panjang dan bercelana cingkrang dari sebelah desa menudingnya sebagai pelaku bid’ah, churafat, takhayul, bahkan syirik.
“Mas, sampean jangan terus-terusan menyesatkan umat. Tahlilan, sholawatan, yasinan, manaqiban, bermaaf-maafan sebelum memasuki Ramadhan, itu bid’ah. Apalagi mendoakan mayit, tawasul atau ngirim pahala untuk orang sudah mati. Doa itu tidak sampai, bahkan merusak iman. Musyrik hukumnya,” kata orang tersebut dengan gaya sok paling Islam dan paling benar.
Kang Hanif hanya diam saja. Ia sudah beberapa kali menghadapi orang begitu yang biasanya hanya bermodal “ngeyel” dengan ilmu agama yg jauh dari memadai. Persis seperti anak kecil baru belajar karate, yang baru tahu satu dua jurus saja lagak lakunya belagu.
Walau kang Hanif telah 9 tahun mengaji di pesantren Tambak Beras dan paham betul dasar-dasar amaliyah itu, ia tetap tak membantah dan membiarkan orang itu terus menudingnya. “Percuma saja membantah orang itu. Hatinya tertutup jenggotnya. Mata hatinya tak seterbuka mata kakinya,” batin kang Hanif.
Beberapa waktu kemudian ayah orang yang berjenggot dan bercelana cingkrang itu meninggal dunia. Kang Hanif datang bertakziyah bersama para jamaahnya. Dia lantas berdoa keras di depan mayit si bapak dan jama’ahnya mengamini.
“Ya Allah, laknatlah mayit ini. Jangan ampuni dosanya. Siksalah dia sepedih-pedihnya. Kumpulkan dia bersama Fir’aun, Qorun dan orang yg Engkau laknati. Masukkan dia di neraka sedalam-dalamnya, selama-lamanya”.
Si jenggot bercelana cingkrang menghampiri Kang Hanif, bermaksud menghentikan doanya.
“Jangan protes. Katamu doa kepada mayit tidak akan sampai. Santai saja. Tidak ada yg perlu engkau khawatirkan bukan? Kalau aku sih yakin doaku sampai,” ujar kang Hanif tenang.
Muka si jenggot bercelana cingkrang pucat. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya yang biasa menghakimi orang lain
Langganan:
Postingan (Atom)
